Masjid

Kubah Enamel Qiblatain Madinah

Kubah Enamel Qiblatain Madinah

Kubah Enamel Qiblatain Madinah

Apakabar pembaca artikel , teta sehatkah anda .. semoga sehat selalu amin amin y robbal alamin. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan artikel yang membahas tentang Kubah Enamel Qiblatain Madinah. Langsung saja tak perlu berlama lama cekidot. Kubah Enamel Qiblatain dulu sekali dikenal dengan nama Kubah Enamel Bani Salamah, ya karena Kubah Enamel ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Kubah Enamel yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Kubah Enamel Bani Salamah. Kubah Enamel ini terletak sekitar -/+7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah. Pada permulaan Islam, orang melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Kubah Enamelil Aqsha) di Yerussalem/Palestina. Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Kubah Enamel Salamah ini, turunlah wahyu Allah yaitu surah Al Baqarah ayat 144.

Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah saw menghadap ke arah Kubah Enamelil Aqsa tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Kubah Enamelil Haram.

Adapun wahyu yang diturunkan Allah SWT untuk mengubah arah kiblat tersebut :

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Kubah Enamelil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Kubah Enamelil Haram itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah: 144).

Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah saw dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saw yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Kubah Enamelil Aqsa ke Kubah Enamelil Haram.

Pada awalnya, kiblat shalat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam as seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96 :

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”

Sedangkan Al Quds ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada disebelah Utara. Adapun Baitullah di Mekah disebelah Selatan sehingga keduanya saling berhadapan.

Perpindahan arah kiblat ini juga dilatari keresahan dan kegalauan Rasulullah saw sendiri yang sempat dicemooh oleh kaum Yahudi dan Nasrani dan orang-rang kafir bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw itu hanya menyontoh dan mengikuti ajaran nenek moyang mereka. Cemoohan yang dikaitkan dengan arah kiblat ke Yerusalem, sehingga Rasulullah saw berdoa dan meminta agar arah kiblat dipindahkan. Doa Rasulullah saw ini kemudian dikabulkan saat sedang berada di Kubah Enamel yang kemudian dinamai Qiblatain ini. Hingga sekarang, bangunan Kubah Enamel ini memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh Imam shalat. Belum lama ini Kubah Enamel tersebut direnovasi oleh pemerintah Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.